Ternak Ayam Bangkok Di Atap Beton


Ternak Ayam Bangkok Di Atap Beton

Kali ini Saya ingin berbagi pengalaman tentang beternak ayam bangkok di atap beton. Berbicara tentang beternak ayam bangkok adalah hal yang sederhana jika tinggal di sebuah kampung dimana disana masih tersedia lahan yang luas, lingkungan yang kondusif, dan bahan baku kandang yang berlimpah. Tetapi ketika situasinya tidak memungkinkan seperti hidup di perkotaan yang padat penduduknya. Mungkin ini bisa jadi solusi agar hobby kita tetap tersalurkan bahkan ini bisa dijadikan suatu usaha/bisnis yang menggiurkan.

Saya memelihara ayam bangkok awalnya hanya 1 betina dan 1 pejantan. Setelah sekitar 4 bulan indukan tersebut bertelur dan menetaskan, menghasilkan 10 pitik bangkok. Dalam setahun Induk ayam bangkok tersebut bisa 5 kali produksi dan menghasilkan 35 anak ayam.

Ada pun Keuntungannya jika beternak ayam bangkok di atap beton tingkat keamanannya lebih terjamin jika dibandingkan dengan beternak ayam bangkok ditanah. Hal ini karena pencuri yang akan melancarkan aksinya akan berfikir dua kali jika ingin mencuri, karena mereka harus bisa memanjat dulu ke lantai atas, sebelum bisa melancarkan aksinya.


Kandang Umbaran di Atap Beton

Hal - hal yang perlu dijaga ketika kita akan beternak itu adalah selalu menjaga kebersihan kandang. Apalagi hidup bertetangga, jangan sampai bau kotoran ayam tersebut menimbulkan masalah dengan tetangga.

Terima Kasih telah berkunjung ke blog ini, jika ada pertanyaan silahkan isi kolom komentarnya.
Satriawijaksana Nov 2017

Sabung Ayam Tradisi Raja Nusantara

Indonesia sudah mengenal Sabung Ayam sejak zaman kerajaan Majapahit. Hingga sekarang, Sabung Ayam telah menjadi salah satu cerita rakyat yang melegenda,seperti cerita Ciung Wanara, Kamandaka, dan Cindelaras. Cerita rakyat tentang Sabung Ayam ini berkaitan erat dengan kisah sejarah dan petuah yang disampaikan secara turun temurun.

Ciung Wanara adalah legenda di kalangan orang Sunda di Indonesia . Cerita rakyat ini menceritakan legenda Kerajaan Sunda Galuh , asal muasal nama Sungai Pemali brebes serta menggambarkan hubungan budaya antara orang Sunda dan Jawa yang tinggal di bagian barat provinsi Jawa Tengah. Cerita ini berasal dari tradisi cerita lisan Sunda yang disebut Pantun Sunda yang kemudian dituliskan ke dalam buku yang ditulis oleh beberapa penulis Sunda, baik dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia.

Dahulu berdirilah sebuah kerajaan besar di pulau Jawa yang disebut Kerajaan Galuh, ibukotanya terletak di Galuh dekat Ciamis sekarang. Dipercaya bahwa pada saat itu kerajaan Galuh membentang dari Hujung Kulon, ujung Barat Jawa, sampai ke Hujung Galuh ("Ujung Galuh"), yang saat ini adalah muara dari Sungai Brantas di dekat Surabaya sekarang. Kerajaan ini diperintah oleh Raja Prabu Permana Di Kusumah. Setelah memerintah dalam waktu yang lama Raja memutuskan untuk menjadi seorang pertapa dan karena itu ia memanggil menteri Aria Kebonan ke istana. Selain itu, Aria Kebonan juga telah datang kepada raja untuk membawa laporan tentang kerajaan. Sementara ia menunggu di depan pendapa, ia melihat pelayan sibuk mondar-mandir, mengatur segalanya untuk raja. Menteri itu berpikir betapa senangnya akan menjadi raja. Setiap perintah dipatuhi, setiap keinginan terpenuhi. Karena itu ia pun ingin menjadi raja. SELENGKAPNYA

Itulah kenapa di Brebes juga ada yang memakai bahasa sunda dalam kesehariannya khususnya brebes bagian barat. Dalam cerita Ciung Wanara tidak di sebutkan kemana ayam yang telah mengalahkan ayam prabu Barma Wijaya....?

Menurut kepercayaan masyarakat sunda brebes Di kerajaan galuh lah ayam ciung tinggal dan berkembang turun temurun sampai ke sebrang timur kali pemali hingga sampai saat ini masyarakat brebes percaya kalau darah ayam ciung wanara akan tetap ada di jawa tengah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...